Sunday, 1 February 2015

Book Review: Rindu by Tere Liye

Saya tidak pandai membuat review sih sebenarnya, tapi mari dicoba~


"Perjalanan haji adalah perjalanan penuh kerinduan, Ambo. Berjuta orang pernah melakukannya. Dan besok lusa, berjuta orang lagi akan terus melakukannya. Menunaikan perintah agama sekaligus mencoba memahami kehidupan lewat cara terbaiknya."
Buku Rindu ini bercerita mengenai kerinduan penumpang kapal Blitar Holland untuk menunaikan Ibadah Haji. Cerita ini berlatar tahun 1938, sehingga naik haji pada zaman itu merupakan perjalanan berbulan-bulan penuh perjuangan mengorbankan banyak waktu, tenaga harta bahkan nyawa. 

“Setiap perjalanan selalu disertai oleh pertanyaan-pertanyaan.” Maka, kisah dalam buku ini adalah tentang pertanyaan-pertanyaan itu sendiri. Terdapat lima pertanyaan yang dibawa oleh penumpang kapal Blitar Holland, yang nantinya pertanyaan-pertanyaan itu akan terjawab seiring melajunya kapal Blitar Holland. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menurutku, sangat dekat dengan kehidupan kita. Tentang masa lalu yang memilukan, tentang kebencian pada seseorang yang seharusnya disayangi, tentang kehilangan kekasih hati, tentang cinta sejati dan tentang kemunafikan. 

Ya, sebagaimana buku Tere Liye yang lainnya, banyak sekali pemahaman-pemahaman baik yang hendak disampaikan. Lagi-lagi aku dibuat jatuh hati pada karya Tere Liye. Membaca kalimat-kalimatnya yang mengalun begitu lembut, aku merasa sedang belajar tanpa dihakimi. 

  • Pertanyaan pertama adalah tentang masa lalu yang memilukan, tentang penerimaan akan masa lalu dan tentang penilaian orang lain akan masa lalu kita. Apakah seseorang dengan masa lalu yang sangat kelam akan diterima di Tanah Suci? 
"Cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan dengan dihadapi. Berdiri gagah. Mulailah dengan damai menerima masa lalumu. Buat apa dilawan? Dilupakan? Itu sudah menjadi bagian hidup kita. Peluk semua kisah itu. Berikan dia tempat terbaik dalam hidupmu. Itulah cara terbaik mengatasinya. Dengan kau menerimanya, perlahan-lahan, dia akan memudar sendiri. Disiram oleh waktu, dipoles oleh kenangan baru yang lebih bahagia. "
 "Maka ketahuilah, Nak, saat kita tertawa, hanya kitalah yang tahu persis apakah tawa itu bahagia atau tidak. Boleh jadi, kita sedang tertawa dalam seluruh kesedihan. Orang lain hanya melihat wajah. Saat kita menangis pun sama, hanya kita yang tahu persis apakah tangisan itu sedih atau tidak. Boleh jadi kita sedang menangis dalam seluruh kebahagiaan. Orang lain hanya melihat luar. Maka, tidak relevan penilaian orang lain."  "Kita tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun bahwa kita itu baik. Buat apa? sama sekali tidak perlu. Jangan merepotkan diri sendiri  dengan penilaian orang lain." 
"Apakah Allah akan menerimamu di Tanah Suci? Jawabannya,  hanya Allah yang tahu. Kita tidak bisa menebak, menduga, memaksa, merajuk, dan sebagainya. Itu hak penuh Allah. Tapi ketahuilah, Nak, ada sebuah kisah sahih dari Nabi kita. Mungkin itu akan membuatmu menjadi lebih mantap. 'Suatu saat ada seekor anjing yang berputar-putar di sekitar sumur. Anjing itu hampir mati karena kehausan, dan dia tidak bisa mengambil air di dalam sumur. Kemudian, datanglah seorang pelacur dari Bani Israil yang melihat anjing itu. Pelacur itu melepas sepatunya dan mengambilkan air untuk anjing itu, dan ia meminumkannya kepada anjing itu. Maka, diampunilah dosa pelacur itu lantaran perbuatannya itu."
"Belajarlah dari riwayat itu. Selalulah berbuat baik. Selalu. Maka semoga besok lusa, ada satu perbuatan baikmu yang menjadi sebab kau diampuni." 
  • Pertanyaan kedua adalah tentang kebencian pada seseorang yang seharusnya disayangi. "Bagaimana mungkin aku pergi naik haji membawa kebencian sebesar ini? Apakah Tanah Suci akan terbuka bagi seseorang sepertiku? Bagaimana caranya agar aku bisa memaafkan, melupakan semua?
Selalu menyakitkan saat kita membenci sesuatu. Apalagi jika itu ternyata membenci orang yang seharusnya kita sayangi. Lantas bagaimana mengatasinya, setelah bertahun-tahun racun kebencian itu mengendap diseluruh tubuh kita? Bagaimana membersihkannya? Aku tidak tahu jawaban pastinya, tapi ketahuilah, kita bisa saja mengatur hati kita, bilang saya tidak akan membencinya. Toh itu hati kita sendiri. Kita berkuasa penuh mengatur-aturnya. Kenapa kita tetap memutuskan membenci? Karena boleh jadi, saat kita membenci diri membenci orang lain, kita sebenarnya sedang membenci diri sendiri.
"Ketahuilah, Nak, saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah, dan kita benar. Apakah orang itu memang jahat atau aniaya. Bukan! Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian dalam hati."
  • Pertanyaan ketiga adalah tentang kehilangan kekasih hati. "Kenapa takdir itu harus terjadi sekarang? Kenapa harus ada di lautan ini? Tidak bisakah ditunda barang satu-dua bulan? Kenapa harus sekarang?"
"Lahir dan mati adalah takdir Allah. Kita tidak mampu mengetahuinya. Pun tiada kekuatan bisa menebaknya. Kita tidak bisa menunda, maupun memajukannya walau sedetik. Kenapa harus sekarang? Allah yang tahu alasannya, Kang Mas. Dan ketika kita tidak tahu, tidak mengerti alasannya, bukan berarti kita jadi membenci, tidak menyukai takdir tersebut. Amat terlarang bagi seorang muslim mendustakan takdir Allah."
"Kang Mas, Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Segala sesuatu yang kita anggap buruk, boleh jadi baik untuk kita. Sebaliknya, segala sesuatu yang kita anggap baik, boleh jadi amat buruk bagi kita."
"Tapi kembali lagi ke soal takdir tadi, mulailah menerimanya dengan lapang hati, Kang Mas. Karena kita mau menerima atau menolaknya, dia tetap terjadi. Takdir tidak pernah bertanya apa perasaan kita, apakah kita bahagia, apakah kita tidak suka. Takdir bahkan basa-basi menyapa pun tidak. Tidak peduli. Nah, kabar baiknya, karena kita tidak bisa mengendalikannya, bukan berarti kita jadi makhluk tidak berdaya. Kita tetap bisa mengendalikan diri sendiri bagaimana menyikapinya. Apakah bersedia menerima, atau mendustakannya." 
  • Jawaban atas pertanyaan keempat dan kelima? Go read this book by yourself! :D
Selain karena pemahaman-pemahaman baik yang dapat dijadikan sebagai pengingat, Aku juga menyukai beberapa karakter dalam buku ini. Anna! Ah Anna, aku suka sekali akan rasa ingin tahunya yang tinggi, juga suka sekali pada tingkah polosnya yang menyenangkan hati banyak orang serta tak lupa, aku suka keributan dan candaan khas kakak adik dengan kakaknya, Elsa. Lucuuu dan ingin rasanya punya anak-anak seperti mereka, terutama Anna. ;D Daeng Andipati. Sosok laki-laki yang berpendidikan dan sangat menyayangi keluarganya. Sosok suami dan Ayah dari anak-anakku yang aku idamkan ;)). Gurutta Ahmad Karaeng. Iya, seorang ulama besar yang sangat bijak dan dihormati. Luasnya pengetahuan yang dimiliki, tak menjadikan Beliau kaku atau bahkan sombong. Beliau pun pandai bercanda, dan aku sangat suka “gaya” bercandanya yang sama sekali tidak merendahkan tapi mampu membuat tersenyum bahkan tertawa. Dan tentu Ambo Uleng. Sosok pendiam yang tangguh dan ternyata sangat mengambil peran penting dalam kisah perjalanan ini. 

Ada hal yang mungkin sedikit mengganggu bagiku dalam buku ini, ada beberapa bagian yang diulang-ulang. Seperti keluarga Daeng Andipati ke kantin, kemudian Anna menyapa Om kelasi, kemudian keluarga tersebut duduk di meja panjang bersama blablabla.. kemudian sekolah, pulang sekolah shalat, ke kabin, ke kantin, dan begitu. Tetapi memang sulit bercerita kegiatan yang tidak sama, mengingat ceritanya berhari-hari di tempat yang “sempit”. Selain itu, rasanya alur buku ini berjalan lambat dibanding buku Tere Liye yang lainnya.

Terlepas dari itu, aku ingin mengatakan bahwa part yang menjadi favoritku adalah part akhir-akhir, saat konflik terakhir di kapal Blitar Holland. Iya… yang itu ;D. Ah, tentu aku juga sukaaa sekali, dan dibuat merinding serta terharu saat membaca Epilog bukunya. Klimaksnya memuaskan! ;’) 

Baiklah, tulisan ini ditutup dengan quotes: 

“.. besok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu. Kisah-kisah cinta di buku itu, di dongeng-dongeng cinta, atau hikayat orang tua, itu semua ada penulisnya. Tapi kisah cinta kau, siapa penulisnya? Allah. Penulisnya adalah pemilik cerita paling sempurna di muka bumi. Tidakkah sedikit saja kau mau meyakini bahwa kisah kau pastilah yang terbaik yang dituliskan.”
NB: quotes terakhir itu setipe dengan tulisanku di sini , tentu dengan cara bercerita yang sangat jauh dari profesional seperti yang ditulis Tere-Liye ;D

Rating: 4/5

No comments:

Post a Comment