Friday, 16 November 2012

Punya Rumah Baru

Maafkan blogger pemalas ini yang punya rumah 1 aja nggak diurus, ini malah bikin rumah baru lagi di SINI. Alasan kenapa bikin rumah di wordpress adalah karena ternyata sekarang wordpress banyak sekali perubahan. Tampilannya jadi mirip tumblr, pun temanya. Ya udah kenapa nggak di tumblr aja sekalian? Eits, jangan salah, aku punya rumah juga kok di tumblr. Tapi rasa-rasanya rumah di sana untukku sih cocok buat reblog-reblog-in foto sama quotes yang bagus aja, bukan buat nge-post tulisan random aku. Hmm, kalau boleh jujur-jujuran nih ya, sebenarnya 3 tahunan yang lalu sebelum ber-rumah di blogspot ini, sempat juga punya rumah di wordpress, ya tapi itu jaman duluuuuuu sekali, jaman kelas 1 SMA, pertama kali mengenal blog. Jadi malas lah kalau harus membuka kenangan lama. Mending buka lembaran baru dengan rumah baru, 'kan?. Okedeh intinya aku mau bilang, silakan bertamu ke rumahku yang mana saja. Maunya aku sih, kalian harus sering-sering bertamu ke semua rumahku, ya? ;'))

Sunday, 11 November 2012

Bakat dan Minat

Saya fikir enak sekali ya orang yang sudah tahu bakat dan minatnya apa. Sudah tak perlu bingung lagi mau mengembangkan apa yang ada di dirinya. Mereka tinggal mengembangkan bakat dan minat mereka. Sedangkan bagi orang-orang yang belum mengetahui bakat dan minatnya, kasihan sekali. Mereka mau mem-push their self juga gimana, kan belum tau yang mau di push nya apaan. Seperti saya gitulah. Saya masih bingung saya punya bakat dan minat di bidang apa. Karena ketika saya menyukai sesuatu, biasanya saya juga suka gampang tidak menyukainya lagi. Terus nanti suka lagi, terus nggak suka lagi. Ya gitu, saya juga bingung sih.

Tuesday, 6 November 2012

Perbincangan di Hotel Pordeo

Sebenarnya ini tugas PBSI, disuruh bikin cerpen yang tenornya zero. Tapi cerpen yang aku buat ini entah benar bertenor zero atau tidak..

***

“Lucu sekali ternyata saya memang belum sehebat itu sehingga saya bisa berakhir di sini. Di hotel yang hina ini, hotel pordeo”, kata Rusdi sambil berkacak pinggang. Ia tak henti menggelengkan kepalanya tanda masih belum percaya. “Ckckckck”.
“Haha saya lebih sial bung Rusdi, saya baru beberapa kali melakukan hal ini, tapi harus berakhir di sini juga bersamamu. Bersama koruptor kelas kakap yang mungkin sudah korupsi lebih dari 5 milyar, kan?”  Andi angkat bicara.
“Jangan sok tahu bung Andi, bahkan mungkin kalau dijumlah-jumlah saya sudah korupsi lebih dari 8 milyar. Karena dari jaman fir’aun pun saya sudah korupsi hahaha hahaha,” bantah Rusdi, “makanya saya heran, setelah berbelas-belas tahun saya korupsi, dan selama itu pula saya berhasil, selalu bisa lolos dari hambatan yang ada, saya ternyata bisa berakhir di sini juga.” Rusdi memegang keningnya dan masih menggelengkan kepalanya.
“Itulah, hukum di negeri ini memang  tidak adil. Saya dan bung Andi yang baru jadi koruptor junior, mengapa bisa sekamar denganmu di sini, dan diperlakukan sama? Itupun alasan saya korupsi adalah karena memang keuangan saya sedang benar-benar terjepit. Murni karena itu, bukan karena seperti bung Rusdi ini yang melakukannya karena hobi.” Seru Adipati heboh. “Lagi pula saya bisa memastikan saya melakukan praktik itu hanya untuk saat itu saja, selebihnya saya berjanji saya tak akan mengulanginya. Tapi dasar sial..” terdengar nada parau yang keluar dari mulutnya. Adipati ini memang terlihat lebih “waras” dari kedua temannya.
“Omong kosong bung Adi, sekali korupsi tidak ketahuan, maka selanjutnya akan korupsi lagi, lagi dan lagi sampai kamu meninggal atau berakhir di sini. Seperti itulah yang terjadi dengan saya. Saya memulainya dari beberapa juta saja, kemudian semakin membesar dan membesar, hingga mencapai milyaran. Ah tunggu, sepertinya saya bahkan memulainya dari kecil. Mengambil untung pembelian buku pelajaran dari orang tua. Ya, ternyata Rusdi kecil pun sudah jadi koruptor haha.”
“Sial kamu Rusdi. Lihat? Bisa-bisanya saya berada dalam satu kamar dengan koruptor kelas kakap. Hukum di negeri ini ketidakadilannya begitu parah.” Adipati meninjukan kepalan tangannya pada tembok penjara.
“Memang, perbandingan jumlah uang yang di korupsi tidak sebanding dengan perbandingan masa tahanan. Ya, seperti itu. Makanya kalian rugi, bung Andi baru korupsi 2 milyar bukan? Dan bung Adipati baru korupsi  1 milyar? Tapi lihat, kalian nyatanya berakhir sama dengan si Rusdi ini. Perbedaan waktu kurungan kita hanya beberapa tahun saja tak sebanding dengan perbedaan jumlah uang yang masing-masing kita korupsi.” Ada senyum yang mengisyaratkan tanda puas tergambar dari bibir Rusdi. Entah apa maksudnya.
Sejenak obrolan panas mereka disisipi keheningan yang mendalam. Nampaknya mereka sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Kecuali Rusdi, ia malah semakin tersenyum lebar melihat teman-temannya yang berada dalam kebingungan seperti itu.
Adipati duduk di ranjang tempat tidurnya yang reyot, ia menenggelamkan kepalanya pada bantal. “Arrrghh…!”, erang Adipati. Teriakkannya tidak begitu jelas terdengar karena mulutnya yang masih bersembunyi di bantal. Hanya jelas sekali terdengar kekecewaan, kesedihan, dan keputusasaan dalam nadanya.
“Parah sekali hukum di negeri ini! Saya tak habis pikir.” Andi yang sebelumnya hanya menyimak kecuali saat awal-awal pembicaraan, kembali angkat bicara.
“Kalian baru sadar, hah? Saya sudah benar-benar sadar dari dulu. Itulah sebabnya saya lebih memilih jadi orang jahat yang benar-benar jahat. Tidak seperti kalian yang jahat setengah-setengah. Di negeri ini bung, kalau mau jahat ya jahat sekalian, kalau mau baik ya baik sekalian. Sudah terlihat jelas kan, yang setengah-setengah selalu merugi karena disamakan dengan yang benar-benar jahat.”
 “Hahaha tahu apa kalian soal hukum di negeri ini, hah?” seru salah satu penjaga dengan tiba-tiba mengagetkan ketiga koruptor itu. Ternyata penjaga yang dari bajunya terlihat bernama Herman sudah menguping pembicaraan antara Rusdi, Andi dan Adipati sejak tadi bersama seorang temannya yang juga penjaga –dari nama dibajunya ia bernama Widianto. “Kami sudah bertahun-tahun bekerja di sini, sudah banyak makan asam garam dunia hukum. Banyak penjahat yang mulai dari kelas teri hingga kelas kakap pernah saya temukan di sini. Jadi, kalian jangan sok tahu dan merasa paling diberlakukan tidak adil oleh hukum negeri ini.” Lanjut Herman masih dengan  suara yang menggelegar.
“Herman benar, dan temanmu Rusdi juga benar. Bahkan ada banyak penjahat kelas teri yang hanya mencuri ayam, atau bahkan sandal capit, mereka dijatuhi hukuman 3 tahun. Sedangkan kalian yang mencuri uang rakyat bermilyar-milyar hanya belasan tahun. Jadi, kamu Adipati dan Andi, jangan merasa paling sial karena telah dicurangi oleh hukum negeri ini, nyatanya ada yang lebih diperlakukan tidak adil oleh hukum negeri kalian ini!”. Timpal Widianto dengan penuh wibawa. Sepertinya hal-hal seperti itu sudah cukup sering menimpa mereka, hal itu bisa terlihat dari gaya bicara Herman dan Widianto yang sangat tenang.
“Haha camkan baik-baik di otak kalian!” Lanjut Widianto sambil berlalu pergi dan kemudian disusul oleh rekannya, Herman. 


***

Kalian ngerasa cerpen ini "nggak puguh" ujungnya, nggak? Sukur deh kalo ngerasa. Atau malah nggak puguh dari awal? Hahaha jangan lah ya kalo dari awal teuing mah ;))

Friday, 2 November 2012

Pengaruh Tontonan dan Bacaan

Mungkin nggak sih, keirian dan keluhan seseorang salah satu penyebabnya adalah dari tontonan/bacaan? Mereka terlalu banyak nonton/baca cerita yang berujung happy ending, jadinya mereka pun iri terus ujung-ujungnya ngeluh karena nyatanya kehidupan mereka sangat jauh dari apa yang ditonton/dibaca oleh mereka. Mungkin nggak? Ya meski mereka sudah sangat tahu bahwa cerita yang ada di film/novel memang hanya fiksi, tapi selalu saja bisa menimbulkan efek yang menjadikan mereka ingin seperti itu --setidaknya untuk aku.