Friday, 12 October 2012

Tell Me Your Wish

Post ini ditulis dalam rangka giveaway–nya mba Nana di Tell Me Your Wish.
Bicara soal wishlist buku-buku saya sih, gak bakal tamat-tamat.  Numpuk banyak banget di account toko buku online. Yang menyebabkan ke-numpuk-an itu tiada lain dan tiada bukan adalah karena dananya yang minim. Maklum dompet mahasiswi :D untuk beli 1 buku pun harus menyisihkan uang dari jatah uang jajan beberapa hari, karena malu juga sih lama-lama minta uang terus-terusan (di luar uang jajan dan kuliah) ke orang tua *cieeee. Ya gitu, makanya saya sangat  berharap bisa menang di giveaway ini ;'))
Tentu, bagi teman-teman yang suka buku juga dan ingin punya buku tapi dananya minim, teman-teman bisa ikut giveaway ini. Giveaway ini membebaskan kita (calon pemenang) untuk memilih buku yang jika dijumlahkan harganya tidak lebih dari Rp 120.000,-. Sangat menarik, kan? Ayok ikutan! dan dapatkan informasi lebih lengkapnya di sini.

Ya, meskipun wishlist buku-buku saya memang banyak sekali, tapi ada beberapa buku yang berada di urutan pertama dan kedua di wishlist saya, itu artinya ke-2 buku itu benar-benar ingin saya dapatkan. Buku-buku tersebut adalah:

  1. Mimpi Sejuta Dolar oleh Alberthiene Endah
Saya benar-benar sedang membutuhkan motivasi saat ini. Motivasi untuk bisa mandiri dalam hal financial seperti Merry Riana yang mampu mencapai kebebasan financial di umurnya yang ke-26 tahun. Sebenarnya, sudah lama pula sih saya ingin membeli buku ini, tapi selalu saja uangnya terpakai oleh kebutuhan-kebutuhan yang lain. Hasil review orang-orang pun menyatakan kalau buku ini memang bagus dan gaya bahasa mbak AE yang terkesan tidak menggurui.  Saya rasa buku ini  sangat cocok dengan kebutuhan saya. Di goodreads juga buku ini mendapatkan rating yang cukup bagus. Saya sungguh berharap bisa mendapatkannya dari mba Nana :D. Harga buku ini sebelum diskon Rp 63.000,- terdapat di toko buku-toko buku  termasuk toko buku online.


  1. Ayahku (bukan) Pembohong oleh Tere Liye
Setelah membaca novel Negeri Para Bedebah, saya menjadi ketagihan untuk membaca novel-novel Tere Liye yang lainnya. Saya menjatuhkan pilihan pada Ayahku (bukan) Pembohong. Meskipun saya kurang suka dengan covernya, tapi bukannya “Don’t judge a book by its cover”, kan? :D Novel ini mendapatkan rating yang cukup bagus di goodreads, 4.02 . Novel ini juga membahas tentang seorang ayah, hal yang menurut saya jarang di lakukan oleh penulis kebanyakan. Biasanya kebanyakan penulis  lebih memilih sosok Ibu untuk di ceritakan. Saya sangat percaya bahwa novel  ini akan mendapatkan 5 bintang dari saya dan saya juga percaya kalau saya akan sangat puas setelah membaca novel  ini, seperti halnya ketika saya membaca novel Negeri Para Bedebah. Harga buku ini sebelum diskon Rp 45.000,- bisa didapatkan di toko buku-toko buku termasuk toko buku online.


Semoga saya bisa mendapatkan ke-2 buku ini, karena saya sangat ingin membacanya. Tak lupa, terima kasih kepada mba Nana yang mengadakan giveaway ini :'))

Wednesday, 10 October 2012

You're My First

Postingan kali ini dalam rangka penitipan sih sebenernya. Karena yang nulis ini sama sekali bukan saya, tapi Devi Andriani untuk seorang cowok, katanya. Jadi maaf kalau sedikit agak-agak galau ya ;D
***

You’are my First
Baru kali ini bener-bener putus sama yang satu ini. Pacar pertama aku, dengan hubungan yang sering putus-nyambung dan setelah diakumulasikan waktu kita pacaran termasuk masa-masa putusnya adalah 4tahun 10bulan. Pertama kalinya aku bisa bertahan putus sama dia sampai 2bulan kayak gini. Pertama kalinya berhenti nangis saat putus sama dia. Miris memang, pacaran selama itu harus kandas ketika aku berada dipuncak kejenuhan. Abis dianya gak bisa ngerti, harus terus aja aku yang ngikutin apa yang dia mau. Aku pacaran sampai 4tahun ini tuh pacaran LDR, long distance relationship. Konyol memang, ketemu jarang tapi pacaran bisa selama itu. Faktor hati sih kata orang. Hahaha. Temen-temen aku yang sering dengerin cerita aku sama dia sampai-sampai menganggap pacaran aku sama dia kayak sinetron katanya. Setiap aku nyeritain tentang pacarku itu, mereka suka nanya duluan ‘Session keberapa cerita yang sekarang?’. Saking banyaknya tuh cerita aku sama dia. Hhe
                Waktu 4tahun 10bulan itu kalo harus dibikin seri bukunya kayaknya gak akan muat dengan 4buku aja. Hhe. Cerita pertama kenalnya, pertama dia nelpon, pertama dia bilang sayang, pertama diselingkuhin, pertama berselingkuh, pertama dikasih barang, pertama ngomong sama calon mertua, pertama dimarahin calon kaka ipar, dan pertama-pertama lainnya yang bakal ngabisin ribuan lembar kertas yang amat sangat berkesan sebagai tanda berwarnanya kehidupan aku. Terimakasih banget buat dia yang selalu membuat hidup aku berwarna, selalu membuat hati aku terbolak-balik, selalu membuat mood aku naik-turun, selalu membuat aku malas belajar atau malah sebaliknya, selalu membuat aku sangat semangat belajar. Dari dia aku belajar kasih sayang, kasih sayang yang tulus, bahwa memberi tak harus menerima, bahwa ikhlas berbuah kebahagiaan, bahwa menyayangi adalah suatu kewajiban, bahwa Alloh adalah Maha segalanya, dan bagi aku dialah segalanya setelah aku menyayangi Alloh dan kedua orang tuaku.
                Tapi hanya ada satu hal yang paling aku benci dari dia, dia itu terlalu menyayangi aku. Aku hanya ingin dicintai secara sederhana. Aku berasa tak berhak menerima perlakuan seperti ini dari makhluk sempurna seperti dia. Aku sadari akhir-akhir ini, rasa yang aku miliki untuknya malah cenderung seperti mengidolakannya padahal kita jarang sekali bertatap muka. Mengagung-agungkan kesempurnaanya, sekalipun aku diajarkannya bahwa tak ada manusia yang sempurna. Namun dimataku dialah pengecualiannya. Dia begitu sempurna, baik fisik maupun hati. Karena itu juga aku merasa terlalu berharap banyak untuk mendapatkan kebahagiaan yang sempurna sesempurna dia. Ternyata Alloh berkehendak lain, ‘Alloh tak selalu memberi apa yang kita inginkan, tapi Alloh selalu memberi apa yang kita butuhkan’. Begitu juga dengan hubungan aku bersama dia. Jarak yang memisahkan membuat semuanya terasa begitu berat untuk diakhiri. Aku masih memahami kekurangan intensitas pertemuan antara aku dengan dia ketika kita masih dipisahkan oleh jarak. Namun aku merasa sangat dibodohi ketika aku kini berada sekota dengan dia, berada dekat dengan kehidupan dia terdahulu. Ketika aku menapakkan kaki dikota yang sering dia ceritakan dulu, aku malah menemukan kekosongan. Kepindahan dia dari kota ini membuat aku sangat terpukul. Membuat aku sangat membenci dia. Dia lah motivator terbesar buat aku setelah cita-citaku untuk bertahan dikota ini sekalipun jauh dari mama dan papa.
                Takdir berkata lain, semua yang terbayang akan terasa indah kini malah terasa sangat memilukan hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri episode kehidupanku dengan dia. Lelaki sebaya  pertama yang aku sayangi setulus hati, lelaki yang telah menjanjikan akan menjadi ayah dari anak-anaku kelak. Setumpuk sesal masih tersimpan, penyesalan bukan karena menyudahi hubungan itu, melainkan penyesalan dari ketidakadilan yang belum berpihak padaku dan dia.
                Kini aku sedang menatapi seikat mawar merah, putih dan kuning yang aku temukan didepan kamarku. Aku meyakini bunga itu dari dia. Bunga yang dulu dia janjikan akan dia berikan ketika aku untuk pertama kalinya akan bertemu dengan dia dikota yang sedang aku diami sekarang ini. Aku bertahan dikota ini dengan seribu bayangan dia yang tak akan pernah hilang. Aku berharap dia akan kembali membawa serpihan ceritanya bersamaku dan melanjutkan semua yang sempat tertunda. Kini hanyalah pesan-pesan yang datang secara tiba-tiba dan malah pending ketika aku membalasnya yang menemani hari-hariku akhir-akhir ini. Aku mengaguminya dengan segala kemisteriusannya. Aku sungguh menyayanginya jauh dari apa yang dia kira selama ini.