Wednesday, 17 November 2010

Spasi

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah Ia bermakna apabila tak ada jeda?
Dapatkah Ia dimengerti jika tak ada spasi?
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak?
Dan saling menyayang bila ada ruang?
Kasih sayang akan membawa dua orang makin berdekatan, tapi Ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu..
Nafas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi..
Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali..
Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah..
Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang..
Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat, janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung..
Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring..
Dewi Lestari

Kosong

Silakan masuk, dan lihat. Kemudian, apa yang kamu temui disini ? apa ada manusia, barang berharga atau apa ? . ah, tenang-tenang tidak usah khawatir seperti itu, jangan salahkan matamu jika kamu tidak bisa menemukan apapun disini.
Ya, karena isinya kosong. Putih, tapi tak bercahaya. Kamu tahu maksudku ? Percayalah, sampai kapanpun kamu tak akan benar-benar mengetahuinya. Karena ku beritahu, putih itu hanya bisa dirasakan tak perlu di mengerti.
Tapi.... tunggu! Apa itu yang disana ? ah lagi-lagi aku ceroboh. Aku meninggalkan bayangan hitam disana. Tidak apa, karena aku sudah membiarkanmu masuk, aku pun akan membiarkanmu melihat bayangan itu. Berjalanlah dengan hati-hati! Karena sepertinya aku pun tak terlalu ingat apa itu.
Ah.. sial! Aku lupa membuang figuran itu. Ah lebih sial lagi karena ternyata disana ada fotomu, dan sekarang ? sekarang kamu melihatnya! Tunggu.... jangan pergi! Kamu sudah tahu, dan sekarang biarkan aku menjelaskan lebih banyak lagi agar lengkap sudah kecerobohan dan kebodohanku.
Iya selama ini aku menyimpanmu, boleh ya ?
Selama ini, sejak pertemuan aku dan kamu. Pertemuan yang seharusnya tak terjadi. Karena pertemuan itu, terlalu banyak berpengaruh terhadap hidupku. Ya, hidupku saja kurasa, tidak dengan hidupmu. Tapi sudahlah, Allah mungkin hanya ingin aku belajar agar menyadari bahwa semua yang aku inginkan tidak bisa aku miliki, bahwa aku harus bisa belajar merelakan, bahwa aku harus terbiasa merasakan sakit.
Tapi tenang.... akhir-akhir ini aku sudah berusaha membuangmu. Membuang bayangmu, maksudku. Karena aku tidak ingin seperti Pak Wayan dalam cerita perahu kertas, yang 20tahun berikutnya masih menyimpan rasa berlebih dan memutuskan untuk hidup sendiri bersama bayang-bayang Lena. Aku ingin melupakanmu besok. Jika tidak bisa, lusa. Atau jika masih tidak bisa, minggu depan. Ah kapanpun itu, secepat mungkin.
Ah tapi ternyata, aku masih saja belum bisa –lebih tepatnya belum ingin- membuang bayanganmu seutuhnya untuk saat ini. Tapi, bukankah aku sudah mencoba ? mungkin untuk saat ini aku hanya bisa melakukan sampai hal itu. Dan pastilah seiring waktu, aku bisa membuang bayangmu seutuhnya. Semoga saja....................................