Sunday, 22 February 2015

Karena mengajar adalah belajar.

Tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir di sebuah fakultas ilmu pendidikan, artinya saya sedang mengontrak mata kuliah PPL (Program Pelatihan Lapangan). Berkutat dengan RPP, LKS, Media, dan soal tes hampir setiap harinya. Dan tentu bertemu dengan anak-anak yang bermacam-macam sifat dan gayanya. Hal yang saya pelajari hingga detik ini adalah bahwa mengajar ternyata membuat kita -guru- belajar. Ya, belajar apa saja. Belajar mengenai materi yang akan disampaikan, dan belajar mengenai cara mengajarkan. Dan ternyata bukan hanya itu saja. Saya menyadari bahwa selain pengetahuan, saya belajar juga mengenai arti memaafkan dari anak-anak. Sehebat apapun mereka bertengkar, saling ejek dan tak jarang saling "toel" hingga mungkin ada yang sampai menangis, beberapa saat kemudian mereka bisa bercanda dan tertawa bersama. Iya, mereka hebat. Mereka paham bahwa itu hanya bercanda, kemudian mereka dengan mudah memaafkan, kembali bermain seolah tak terjadi apa-apa. Semoga kita yang -mengaku- sudah dewasa, mampu dengan mudah memaafkan kesalahan, baik kesalahan orang lain terlebih kesalahan diri sendiri.

Hanya sedang merindu teman-teman lucu

Aku merasa bahagia dikelilingi teman-teman humoris. Setidaknya ketika hidup begitu rumit, ujian datang silih berganti, berkumpul bersama teman dapat dijadikan sebagai tempat untuk rekreasi hati. Tertawa sejenak, memandang hal yang sebenarnya tidak lucu menjadi lucu, membicarakan hal yang tidak ada sisi pentingnya sama sekali dan menertawakan hal sepele.

Iya, malam ini aku sedang begitu rindu. Just fyi, kami sudah jarang bertemu dipisahkan oleh jarak dan waktu (read: PPL). Kemungkinan faktor penyebab kerinduan ini adalah lelucon sepele di grup BBM yang mampu membuatku tertawa terbahak. Selain itu faktor lainnya yang paling pahit adalah kenyataan bahwa kami tak akan pernah sering bertemu kembali. Ah.. Mahasiswa tingkat akhir!

Sunday, 1 February 2015

Book Review: Rindu by Tere Liye

Saya tidak pandai membuat review sih sebenarnya, tapi mari dicoba~


"Perjalanan haji adalah perjalanan penuh kerinduan, Ambo. Berjuta orang pernah melakukannya. Dan besok lusa, berjuta orang lagi akan terus melakukannya. Menunaikan perintah agama sekaligus mencoba memahami kehidupan lewat cara terbaiknya."
Buku Rindu ini bercerita mengenai kerinduan penumpang kapal Blitar Holland untuk menunaikan Ibadah Haji. Cerita ini berlatar tahun 1938, sehingga naik haji pada zaman itu merupakan perjalanan berbulan-bulan penuh perjuangan mengorbankan banyak waktu, tenaga harta bahkan nyawa. 

“Setiap perjalanan selalu disertai oleh pertanyaan-pertanyaan.” Maka, kisah dalam buku ini adalah tentang pertanyaan-pertanyaan itu sendiri. Terdapat lima pertanyaan yang dibawa oleh penumpang kapal Blitar Holland, yang nantinya pertanyaan-pertanyaan itu akan terjawab seiring melajunya kapal Blitar Holland. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menurutku, sangat dekat dengan kehidupan kita. Tentang masa lalu yang memilukan, tentang kebencian pada seseorang yang seharusnya disayangi, tentang kehilangan kekasih hati, tentang cinta sejati dan tentang kemunafikan. 

Ya, sebagaimana buku Tere Liye yang lainnya, banyak sekali pemahaman-pemahaman baik yang hendak disampaikan. Lagi-lagi aku dibuat jatuh hati pada karya Tere Liye. Membaca kalimat-kalimatnya yang mengalun begitu lembut, aku merasa sedang belajar tanpa dihakimi. 

  • Pertanyaan pertama adalah tentang masa lalu yang memilukan, tentang penerimaan akan masa lalu dan tentang penilaian orang lain akan masa lalu kita. Apakah seseorang dengan masa lalu yang sangat kelam akan diterima di Tanah Suci? 
"Cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan dengan dihadapi. Berdiri gagah. Mulailah dengan damai menerima masa lalumu. Buat apa dilawan? Dilupakan? Itu sudah menjadi bagian hidup kita. Peluk semua kisah itu. Berikan dia tempat terbaik dalam hidupmu. Itulah cara terbaik mengatasinya. Dengan kau menerimanya, perlahan-lahan, dia akan memudar sendiri. Disiram oleh waktu, dipoles oleh kenangan baru yang lebih bahagia. "

Sunday, 18 January 2015

Ya.

Bersyukurlah ketika kamu masih mampu mengeluarkan air mata atas kejadian yang tak kamu hendaki. Karena di luar sana, bahkan ada orang yang sampai tak mampu mengeluarkan air mata sedikitpun. Entahlah. Mungkin masalahnya sudah terlalu sering menghampiri. Ia bahkan sebelumnya mungkin telah sering menangis, tapi tak kunjung mendapatkan solusi. Hingga akhirnya air mata baginya hanyalah buang-buang energi.

Thursday, 15 January 2015

Penjaga Rumah

Impian saya mungkin sedikit berubah. Jika dulu saya menulis bahwa saya ingin merasakan pulang, mungkin saat ini tidak lagi. Saya mungkin sudah sedikit paham, alasan kuat mengapa saya tetap di kota kelahiran adalah orangtua. Alasan pertama dan yang paling utama.

Saya terlahir sebagai anak terakhir yang jika ditulis Tere Liye dalam buku Amelia, anak terakhir biasanya memang menjaga rumah. Saat ini, saya tidak keberatan jika harus seperti itu, menghabiskan waktu menjadi anak tunggal di rumah bersama orangtua yang dicinta.

Tidak, saat ini saya tidak ingin merasakan pulang. Mungkin saya hanya butuh liburan saja. ;')